Minggu, 09 November 2014

Psikologi Manajemen

Fieky Fansuri (12512927) 
3PA11


Carilah berbagai bentuk teori motivasi (minimal 3) yang dianggap tepat untuk bisa menggerakan proses kerja karyawan dilakukan dengan penuh semangat. Uraikanlah teori-teori tersebut secara lengkap!

Teori Motivasi yang dianggap tepat untuk bisa menggerakkan proses kerjaa karyawan dilakukan dengan penuh semangat. 

a. Teori Hierarki Kebutuhan Teori Hierarki Kebutuhan milik Abraham Maslow dapat dikatakan sebagai teori motiasi paling terkenal. Ia membuat hipotesis bahwa dalam setiap diri manusia terdapat hierarki dari lima kebutuhan. Kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah: 
1) Fisiologis Meliputi rasa lapar, haus, berlindung, seksual, dan kebutuhan fisik lainnya. 
2) Rasa Aman Meliputi rasa ingin dilindungi dari bahaya fisik dan emosional. 
3) Sosial Meliputi        rasa kasih sayang, kepemilikan, penerimaan dan persahabatan.
4) Penghargaan Meliputi factor-faktor penghargaan internal seperti hormat diri, otonomi, dan pencapaian; dan factor-faktor penghargaan eksternal seperti status, pengakuan, dan perhatian. 
5) Aktualisasi Diri Dorongan untuk menjadi seseorang sesuai kecakapannya; meliputi pertumbuhan, pencapaian potensi seseorang, dan pemenuhan diri sendiri. Dari sudut pandang motivasi, teori tersebut mengatakan bahwa meskipun tidak ada kebutuhan yang benar-benar dipenuhi, sebuah kebutuhan yang pada dasarnya telah dipenuhi tidak lagi memotivasi. Jadi bila ingin memotivasi seseorang, menurut Maslow, kita harus memahami tingkat hierarki di mana orang tersebut berada saat ini dan focus untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan di atau di atas tingkat tersebut. Teori kebutuhan Maslow telah menerima pengakuan luas, terutama di antara para manajer pelaksana. Hal ini dapat dikaitakn dengan logika intuitif dan kurangnya pemahaman dari teori tersebut.

b. Teori X dan Teori Y Douglas McGregor
 mengemukakan dua pandangan nyata mengenai manusia: pandangan pertama pada dasarnya negative, disebut Teori X (Theory X), dan yang kedua pada dasarnya positif, disebut Teori Y (Theory Y). Setelah mengkaji cara para manajer berhubungan dengan para karyawan, McGregor menyimpulkan bahwa pandangan manajer mengenai sifat manusia didasarkan atas beberapa kelompok asumsi tertentu dan bahwa mereka cenderung membentuk perilaku mereka terhadap karyawan berdasarkan aumsi-asumsi tersebut. Menurut Teori X, empat asumsi yang dimiliki oleh manajer adalah:
1) Karyawan pada dasarnya tidak menyukai pekerjaan dan, sebisa mungkin berusaha untuk menghindarinya. 
2) Karena karyawan tidak menyukai pekerjaan, mereka harus dipaksa, dikendalikan, atau diancam dengan hukuman untuk mencapai tujuan-tujuan. 
3) Karyawan akan mengindari tanggung jawab dan mencari perintah formal bila mungkin. 
4) Sebagai karyawan menempatkan keamanan di atas semua factor lain terkait pekerjaan dan menunjukkan sedikit ambisi. 

Bertentangan dengan pandangan-pandangan negative mengenai sifat-sifat manusia dalam teori X, McGregor menyebutkan empat asumsi positif yang disebut sebagai teori Y: 
1) Karyawan menganggap kerja sebagai hal yang menyenangkan, seperti halnya istirahat atau bermain. 
2) Karyawan akan berlatih mengendalikan diri dan emosi untuk mencapai berbagai tujuan. 
3) Karyawan bersedia belajar untuk menerima, bahkan mencari tangguang jawab. 
4) Karyawan mampu membuat berbagai keputusan inovatif yang diedarkan ke seluruh populasi, dan bukan hanya bagi mereka yang menduduki posisi manajemen. 

Teori X berasumsi bahwa kebutuhan-kebutuhan tingkat yang lebih rendah mendominasi individu. Teori Y berasumsi bahwa kebutuhan-kebutuhan tingkat yang lebih tinggi mendominasi individu. McGregor sendiri yakin bahwa asumsi-asumsi Teori Y lebih valid daripada Teori X. oleh karena itu, ia mengemukakan berbagai ide seperti pembuatan keputusan partisipatif, pekerjaan yang menantang, serta hubungan kelompok yang baik sebagai pendekatan yang akan memaksimalkan motivasi pekerjaan seorang karyawan.

c. Teori Dua Faktor Teori dua faktor (two-factor theory) juga disebut teori motivasi hygiene (motivation-hygiene theory) dikemukakan oleh seorang psikolog bernama Frederick Herzberg. Dengan keyakinan bahwa hubungan seorang individu dengan pekerjaan adalah mendasar dan bahwa sikap seseorang terhadap pekerjaan bisa dengan sangat baik menentukan keberhasilan dan kegagalan. Herzberg menyelidiki pertanyaan tersebut, “Apakah yang diinginkan individu dari pekerjaan-pekerjaan mereka?” Ia meminta individu untuk mendeskripsikan secara mendetail situasi-situasi di mana mereka merasa luar biasa baik atau buruk dengan pekerjaan-pekerjaan mereka. Respon-respon ini kemudian ditabulasi dan dikategorikan Dari respon-respon yang dikategorikan, Herzberg menyimpulkan bahwa jawaban-jawaban yang diberi oleh individu ketika mereka merasa baik dengan pekerjaan-pekerjaan mereka berbeda secara signifikan dari jawaban-jawaban yang diberikan ketika mereka merasa buruk. Respon yang merasa baik dengan pekerjaan mereka cenderung menghubungkan faktor intrinsik, seperti: kemajuan, pengakuan, tanggung jawab dan pencapaian dengan kepuasan kerja mereka sendiri. Namun, respon-respon yang tidak puas cenderung menyebutkan faktor-faktor ekstrinsik, seperti pengawasan, imbalan kerja, kebijaksanaan perusahaan, dan kondisi-kondisi kerja. Data tersebut menunjukkan, menurut Herzberg, bahwa lawan dari kepuasan bukanlah ketidakpuasan, seperti yang pada umumnya kita ketahui. Menghilangkan karakteristik-karakteristik yang tidak memuaskan dari suatu pekerjaan belum tentu membuat pekerjaan tersebut memuaskan. Menurut Herzberg, faktor-faktor yang menghasilkan kepuasan kerja terpisah dan berbeda dari faktor-faktor yang menimbukan ketidakpuasan kerja. Oleh karena itu, manajer yang berusaha menghilangkan faktor-faktor yang menimbulkan ketidakpuasan kerja mungkin menghadirkan kenyamanan, namun bukan memotivasi. Sebagai hasilnya, kondisi-kondisi yang melingkungi pekerjaan seperti kualitas pengawasan, imbalan kerja, kebijaksanaan perusahaan, kondisi fisik pekerjaan, hubungan dengan individu lain, dan keamanan pekerjaan digolngkan oleh Herzberg sebagai faktor-faktor hygiene. Ketika faktor-faktor tersebut memadai orang-orang tidak akan merasa tidak puas, namun bukan berarti mereka merasa puas. Jika kita ingin memotivasi individu dalam pekerjaan mereka, Herzberg menyatakan penekanan faktor-faktor yang berhubungan dengan pekerjaan itu sendiri atau dengan hasil-hasil yang berasal darinya—seperti peluang promosi, peluang pengembangan diri, pengakuan, tangguang jawab, dan pencapaian.


Carilah teori yang menjelaskan tentang pola asuh kepemimpinan (otokratik, demokratik, dan permisif). Buatkanlah uraian tentang situasi yang tepat untuk menerapkan kepemimpinan!

Pola Kepemimpian 
a. Otokratik Kepemimpinan otokratik atau sering disebut juga kepemimpinan otoritan merupakan pola kepemimpinan dimana pemimpin mengatakan apa yang diinginkannya, dan bagaimana mengimplemantasikan keinginannya, tanpa meminta penddapat dan masukan dari bawahannya. Dan bawahannya harus melaksanakannya. Pola kepemimpinan ini berorientasi pada tugas (task-oriented : kerja dan kerja). Pemimpin yang otorite, misalnya, tidak suka dikritik, apalagi dikecam. Ia selalu menganggap dirinya benar, paling tahu dan paling bijak. Oleh karena itu, ia tidak dapat menerima perbedaan pendapat. Ia menghukum dan tidak dapat menoleransi siapa saja yang tidak melaksanakan, apalagi menjegal perintahnya. Gaya otokratik lebih disukai dan dibutuhkan oleh komandan di medan pertempuran. Karena tidak ada orang lain yang diajak konsultasi, gaya otokratik memungkinkan pembuatan keputusan yang cepat. Jadi, gaya tersebut akan berguna dalam kondisi pengujian keefektifan suatu perusahaan terhadap pesaing yang berdasarkan pada waktu (time-based competitor). 

b. Demokratik Pola kepemimpinan demokratik dimana pemimpin selalu mangajak beberapa perwakilan bawahan dalam proses pengambilan keputusan. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan pemimpin. Pola kepemimpinan ini berorientasi pada orang (people oriented), apresiasi tinggi pada staf dan sumbangan pemikiran dari mana pun. Pemimpin demokratis selalu melibatkan staf atau pembantu dalam mengambil keputusan. Ia berusaha mendengar berbagai pendapat, menghimpun dan menganalisis pendapat-pendapat tersebut untuk kemudian diambil pilihan yang dipandang paling tepat. Contohnya, seorang manajer mungkin meminta anggota kelompok lainnya untuk mewawancarai dan menawarkan pendapat mengenai sekelompok pelamar. Akan tetapi, manajer itu sendiri yang pada akhirnya akan membuat keputusan akhir. 

c. Permisif Kepemimpinan Permisif juga sering disebut dengan kepemimpinan laissez-faire, yaitu dimana pemimpin mempersilahkan bawahannya untuk membuat keputusan. Karena telah mendelegasikan sebagian kewenangannya, pemimpin percaya terhadap apa yang diputuskan dan dilaksanakan oleh bawahan. Tapi, pemimpin tetap bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas. Laissez-faire sesungguhnya tidak mempunyai orientasi. Ia sepertinya tidak terlampau serius menangani permasalahan sebab dianggap sudah ada pembantunya yang bekerja untuk itu. Pemimpin laissez-faire tidak terlalu pusing dengan jalannya pemerintahan. Ia memberikan full delegation of authority kepada para pembantu di bidangnya masing-masing. Para manajer yang menerapkan gaya kepemimpinan ini umumnya berperan sebagi penasihat bagi bawahan yang diperbolehkan membuat keputusan, ketua komite sukarela yang sedang mengumpulkan dana untuk perpustakaan baru mungkin melihat gaya laissez-faire sebagai gaya yang paling efektif. Tanpa mengabaikan teori-teori mengenai bagaimana pemimpin seharusnya memimpin, keefektifan semua pola kepemimpinan sangat bergantung pada keinginan para bawahan dalam berbagai masukan dan melatih kreativitas. Sebagai contoh, beberapa orang frustasi, sedangkan beberapa lainnya menyukai manajer yang otokratik karena mereka tidak menginginkan dukungan suara dalam pembuatan keputusan. Sementara itu, pendekatan demokratis bisa menjadi tidak menyenangkan bagi orang-orang yang ingin memikul tanggung jawab pembuatan keputusan maupun bagi yang tidak. Pola laissez-faire sangat bergantung pada kreativitas karyawan, dan pada solusi kreatif atas masalah-masalah yang ada. Pola itu juga menarik bagi karyawan yang ingin merencanakan pekerjaan mereka sendiri. Masalahnya, tidak semua bawahan mempunyai latar belakang atau keahlian yang diperlukan untuk membuat keputusan yang kreatif. Sementara, lainnya tidak cukup termotivasi untuk bekerja tanpa pengawasan. 



Daftar Pustaka : Robbins, S. P., dan Judge, T. A. (2008). Perilaku organisasi. Jakarta: Salemba Griffin, R. W., dan Ebert, R. J. (2007). Bisnis edisi kedelapan. Jakarta: Eirlangga Lesmana, T. (2009). Dari Soekarna sampai SBY: intrik& lobi politik para penguasa. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Jumat, 31 Oktober 2014

HEIDER (FRITZ HEIDER)

Fritz Heider lahir di Vienna pada tahun 1896. Ia menghabiskan masa kanak-kanaknya di Craz, dan menerima pendidikan klasiknya di Gymnasium pemerintah. Ia tidak ikut wajib militer selama perang dunia pertama akibat cacat mata yang dialami sejak masa kecilnya. Ia belum mempunyai cita-cita yang terfokus, namun sebenarnya minatnya berpusat pada filsafat dan psikologi. Ketika sebagai mahasiswa, ia bertemu dengan Alexius Meinong, seorang figur yang sangat berpengaruh di Eropa. Meinong inilah yang menganjurkan judul disertasi doktoral Heider dalam bentuk pertanyaan, “Why do we say, we see the house and do not say, we see the sun?” dalam uraiannya, Heider membedakan antara hal atau objek dan medium atau lingkungan yang menyediakan informasi mengenai objek. Ia meneruskan perbedaan ini dalam analisisnya kemudian mengenai persepsi manusia. Di Craz, Heider juga dipengaruhi oleh psikolog Victorio Benussi, yang merupakan salah seorang yang pertama kali memimpin dan mempublikasikan penelitian-penelitian dalam bidang persepsi gestalt. Setelah menyelesaikan disertasinya, yang dikerjakan selama musim dingin tahun 1919, ia bekerja setahun sebagai seorang psikolog terapan, tetapi ia menjadi bosan dengan pekerjaan itu. Ia kemudian memutuskan untuk pergi ke Berlin, tempat pamannya bekerja sebagai seorang ahli kehewanan. Benussi meminta Heider agar ketika sedang berada di sana, ia dapat berkontak dengan para psikolog di Universitas Berlin. Jurusan psikologi di Universitas Berlin memang terkenal. Para dosen dalam bidang persepsi, khususnya Max Wertheimer adalah profesor yang sangat terkenal dan populer di antara para mahasiswa dan para ilmuwan dalam banyak bidang. Pada saat itu, ada perkiraan bahwa penelitian dan teori gestalt akan berperan penting dalam perkembangan psikologi. Heider kemudian mengikuti kuliah Wertheimer, dan Wolfgang Köhler, dan ia menemukan banyak sekali konsep psikologi gestalt, yang sangat berguna bagi pekerjaannya kemudian dalam bidang persepsi dari hubungan interpersonal. Ia juga berteman akrab dengan Kurt Lewin, seorang dosen muda di Universitas Berlin. Dari Berlin ia berkeliling untuk beberapa saat, di mana ia memiliki waktu yang cukup untuk membaca filsafat, (khususnya filsafat Spinoza, dan Nietzche), psikologi dan banyak macam tulisan lain lagi. Tahun 1927, ia menjadi asisten profesor bagi William Stern di Universitas Hamburg, dan selama itu juga ia berkenalan dengan Heinz Werner dan Ernst Cassirer. Ia belajar banyak dari ketiga tokoh tersebut. Tahun 1930 ia menerbitkan buku yang berjudul Die Leistung des Wahrnehmungs-systems. Pada tahun yang sama, ia minta cuti satu tahun dari Universitas Hamburg untuk mendampingi psikolog gestalt, Kurt Koffka pada Smith College di Northampton, Massachusetts. Di sana tugas utamanya adalah menangani para penderita tuli di the Clarke School, ia juga berjumpa dengan Grace Moore yang adalah juga anggota kelompok penelitian Koffka. Mereka menikah tak lama kemudian dan selanjutnya Heider tinggal di Amerika Serikat. Tahun-tahun berikutnya ia mengombinasikan penelitiannya di sekolah khusus bagi para penderita tuli dengan pengajaran di Smith College dan menerbitkannya bersama Grace Heider dua monograf dalam psikologi tuli pada tahun 1940 dan 1941. Pada tahun-tahun terakhir di Smith College, Heider diberi beasiswa Guggenheim dengan tugas meneruskan pekerjaannya dalam bidang penelitian “relasi interpersonal”. Tahun 1947, Heider pindah ke Universitas Kansas, tempat Roger G. Barker, ketua jurusan psikologi yang baru, membawa kepadanya sekelompok psikolog yang mengenal dan teman perkumpulan Kurt Lewin. Selanjutnya, mereka menjadi kelompok diskusi dan saling bahu dalam penelitian dan riset. Tahun-tahun berikutnya, Heider menghabiskan satu semester di Universitas Cornell, setahun di Universitas Oslo sebagai Fullbrght profesor, dan setahun di Universitas Duke sebagai profesor kehormatan William Preston. Tahun 1951 ia menerima beasiswa Guggenheim yang kedua dan tahun 1956 ia menerima bantuan dari Ford Foundation yang memungkinkan dia untuk menyelesaikan bukunya yang berjudul The Psychology of Interpersonal Relations, yang terbit pada tahun 1958. Tahun 1959, ia menerima the Lewin Memorial Award, yang diberikan oleh perkumpulan masyarakat penelitian psikologi dalam bidang sosial. Tahun 1963, ia memperoleh penghargaan the Byron Caldwell Smith, yang diberikan oleh Universitas Kansas, dan tahun 1965 ia mendapat penghargaan sebagai ilmuwan terkemuka dan the American Psychological Association. Hingga tahun 1955, hanya ada dua contoh pola dominan dalam psikologi sosial. Yang pertama adalah cognitive dissonance, yaitu suatu teori tentang dinamika kognisi yang dikemukakan Leon Festinger, yang merupakan juga bagian dari prinsip umum dari keseimbangan. Yang kedua adalah teori Atribusi yang mendapat daya dorongnya dari tulisan-tulisan Heider. Pola-pola teori Atribusi muncul semakin lama semakin kuat. Ia mendominasi psikologi sosial dan merambah masuk dalam bidang motivasi, kepribadian, dan pikologi klinis. Sebagian besar dari teori Atribusi diakui sebagai berasal dari Heider. Dialah yang mendorong ke arah baru dan bentuk-bentuk alternatif, dari pola psikologi sosial. Tulisan Heider antara lain 1. “Ding und Medium” (1927), artikel yang termuat dalam Symposion, philosophische Zeitschrft für forschung und Ausprache 1: 109-157. 2. “Die Leistung des Warnehmungs-systems” (1930), artikel yang dimuat dalam Zeitschrift für Psychologie 114: 391-394. 3. “A Comparison of the Sentence Structure of Deaf and Hearing Children” (1940), artikel yang ditulis bersama Grace Heider dan dimuat dalam Psychological Monographs 52, no.1. 4. “The Adjustment of the Adult Deaf” (1941), artikel yang ditulis bersama Grace Heider M. dan dimuat dalam Psychological Monograph 53, No.5. 5. “Social Perception and Phenomenal Causality” (1994), artikel yang dimuat dalam Psychological Review 51: 358-374. 6. “An Experimental Study of Apparent Bahavior” (1994), artikel yang ditulis bersama dengan Marianne Simmel, dan dimuat dalam American Journal of Psychology 57: 243-259. 7. “Attitudes and Cognitive Organization” (1946), artikel yang dimuat dalam Journal of Psychology 21: 107-112. 8. The Psychology of Interpersonal Relations (1958). 9. ”On Perception and Event Structure, and the Psychological Environment” (1959), artikel yang dimuat dalam Psychological Issues 1, No.3: 1-123.     10. “The Gestalt theory of Motivation” (1960), artikel yang dimuat dalam buku The Nebraska Symposium on Motivation, hal. 145-172, editor Marshall R. Jones. 11. Stern, William (1968), dimuat dalam International Encyclopedia of the Social Sciences, Volume 15, hal.262-265, editor Dacid L. Sills.   Referensi: Weiner M.B, & Weiner B., Heider F., (1968). International Encyclopedia of the SOCIAL SCIENCES. Volume 18: 287-289. The New Encyclopaedia Britannica (1973).     TEORI KESEIMBANGAN FRITZ HEIDER   Teori keseimbangan adalah teori motivasi dari perubahan sikap, yang diusulkan oleh Fritz Heider. Ini mengkonseptualisasikan motif konsistensi kognitif sebagai drive terhadap keseimbangan psikologis. Motif konsistensi adalah dorongan untuk mempertahankan nilai-nilai dan keyakinan dari waktu ke waktu. Heider mengusulkan bahwa “sentimen” atau hubungan yang seimbang menyukai jika valensi mempengaruhi dalam suatu sistem mengalikan keluar untuk hasil yang positif.   P-O-X Model   Heider P-O-X Model   Sebagai contoh : Orang (P) yang suka orang (O) lain akan seimbang dengan sikap valensi yang sama atas nama lainnya. Secara simbolis, P (+) > O dan P < (+) O menghasilkan keseimbangan psikologis.   Hal ini dapat diperluas ke objek (X) juga, sehingga memperkenalkan hubungan triadic. Jika P seseorang menyukai X objek, tetapi orang tidak suka O lain, apakah P merasa setelah mengetahui bahwa O dibuat X? Ini dilambangkan seperti :   P (+) > X   P (-) > O   O (+) > X   Mengalikan tanda-tanda menunjukkan bahwa orang tersebut akan merasakan ketidakseimbangan (produk perkalian negatif) dalam hubungan ini, dan akan termotivasi untuk memperbaiki ketidakseimbangan entah bagaimana. Orang ini bisa :   Memutuskan bahwa O tidak begitu buruk setelah semua,   Putuskan X yang tidak sama besar seperti yang diperkirakan, atau   Menyimpulkan bahwa O tidak bisa benar-benar telah membuat X.   Semua ini akan menghasilkan keseimbangan psikologis, sehingga menyelesaikan dilema dan memuaskan drive. ( P Orang juga bisa menghindari objek X dan O orang lain seluruhnya, mengurangi stres yang diciptakan oleh ketidakseimbangan psikologis ).   Untuk memprediksi hasil dari situasi menggunakan Teori Balance Heider itu, kita harus mempertimbangkan dampak dari semua potensi hasil, dan yang membutuhkan sedikit usaha akan kemungkinan hasilnya.   Contoh :   Teori Keseimbangan juga berguna untuk meneliti bagaimana dukungan selebriti mempengaruhi sikap konsumen terhadap produk. Jika seseorang menyukai selebriti dan merasakan (karena pengesahan) yang mengatakan selebriti menyukai produk. Kata orang akan cenderung menyukai produk yang lebih dalam rangka mencapai keseimbangan psikologis.   Namun, jika orang tersebut sudah memiliki ketidaksukaan untuk produk yang didukung oleh selebriti, dia mungkin suka selebriti yang kurang selain menyukai produk yang lebih, lagi untuk mencapai keseimbangan psikologis.   Teori keseimbangan Heider dapat menjelaskan mengapa memegang sikap negatif yang sama dari orang lain mempromosikan kedekatan (lihat musuh dari musuh saya adalah teman saya).         Referensi : http: // en.wikipedia.org/wiki/Balance_theory     

Minggu, 12 Oktober 2014

Tugas Psikologi Manajemen

Nama : Fieky Fansuri
NPM : 12512927 
Kelas : 3PA11 


1.) Unsur psikologis yang dibutuhkan untuk melakukan Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling Secara umum, unsur psikologis yang dibutuhkan untuk melakukan POAC (Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling) adalah unsur kognitif (kemampuan berpikir), unsur sikap kerja (kemampuan menanggapi tuntutan pekerjaan), serta unsur kepribadian (kemampuan mengelola diri pribadi).
- Unsur kognitif (kemampuan berpikir) dapat diuraikan ke dalam tiga bentuk perilaku kognitif, yaitu daya tangkap kognitif untuk memahami tugas baik melalui informasi kalimat, simbol ataupun angka, daya berpikir yang konseptual dengan cara membangun konsep berpikir yang menyeluruh dan sistematis, dan juga daya analisa berpikir yaitu menciptakan hasil pemikiran yang tepat untuk menyelesaikan masalah.
- Unsur sikap kerja (kemampuan menanggapi tuntutan pekerjaan) dapat dilihat didalam beberapa aspek sikap kerja, yaitu ketahanan terhadap tekanan dari luar maupun dalam atau daya tahan stress, cara kerja yang cepat untuk menyelesaikan pekerjaan, kemampuan untuk mencapai prestasi kerja yang memuaskan, dan ketelitian dalam melakukan pekerjaan.
 - Unsur kepribadian (kemampuan mengelola diri pribadi) dapat berupa daya penyesuaian diri atau adaptasi, kemampuan menjalin interaksi dan hubungan yang baik, kemauan untuk bekerja sama, dan kemampuan untuk memimpin.

2.) Perilaku yang bisa digunakan untuk melakukan POAC Perilaku yang muncul dalam manajemen saat melakukan manajemen yaitu planning, organizing, actuating, dan controlling pasti ada perilaku yang muncul sehingga manajemen tersebut dapat berjalan. Maka dibawah ini adalah sikap yang muncul dalam manajemen : 
 >Planning
 -  Menetapkan tujuan dan target bisnis 
 -  Merumuskan strategi untuk mencapai tujuan dan target bisnis tersebut 
 - Menentukan sumber-sumber daya yang diperlukan 
 - Menetapkan standar/indikator keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target bisnis. 
 >Organizing  
- Mengalokasikan sumber daya, merumuskan dan menetapkan tugas, dan menetapkan prosedur yang diperlukan 
-  Menetapkan unsur organisasi yang menunjukan adanya garis kewenangan dan tanggung jawab 
-  Kegiatan perekrutan, penyeleksian, pelatihan dan pengembangan SDM 
- Kegiatan penempatan SDM pada posisi yang paling tepat. 
>Actuating 
- Mengimplementasikan proses kepemimpinan, pembimbingan, dan pemberian motivasi kepada tenaga kerja agar dapat bekerja secara efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan 
- Memberikan tugas dan penjelasan rutin mengenai pekerjaan 
- Menjelaskan kebijakan yang ditetapkan 
>Controlling 
- Mengevaluasi keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target bisnis sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan 
- Mengambil langkah klarifikasi dan koreksi atas penyimpangan yang mungkin ditemukan dalam pencapaian tujuan 
- Melakukan berbagai alternatif solusi atasberbagai masalah yang terkait dengan pencapaian tujuan dan target bisnis. 

3.) Sistem Manajemen Departemen Store 
>Manajemen Keuangan 
- Bagaimana cara pencatatan administrasi kas yang bijak 
- Laporan laba dan rugi serta laporan neraca saldo 
- Laporan arus kas serta perencanaan kas yang bijak 
>Manajemen Operasional 
-   Pengawasan bea- cukai (keluar masuknya barang) 
-   Pengawasan gudang 
-   Pengawasan persediaan barang 
-  Pengawasan departemen store dan pengawasan pelayanan konsumen 
>Manajemen Pembelian 
-  Negosiasi dengan Supplier 
-  Pengawasan kualitas barang dagangan 
- Pengawasan pengembalian barang dari konsumen 
>Manajemen SDM 
-   Cara membuat struktur organisasi Departemen Store 
-   Cara membuat Job Desk 
-   Cara rekruitmen dan penempatan karyawan 
-   Evaluasi karyawan dengan cara melalui reward dan punishment 
-  Mengadakan training 
>Manajemen Lokasi Hal-hal yang diperhatikan dalam memilih lokasi untuk membangun Departemen Store 
- Membangun lokasi diantara persimpangan jalan raya 
- Banyaknya kendaraan yang berlalu lalang - Paling tidak ada tempat parkir, minimal untuk sepeda motor 
>Manajemen Tata Ruang 
- Suasana ruangan yang cukup penerangannya 
- Interior menggunakan cat tembok yang cerah 
- Kebersihan dan kerapihan

Rabu, 02 Juli 2014

Pekerjaan dan Waktu Luang

1. Pekerjaan dan Waktu Luang A. Mengubah Sikap Terhadap Pekerjaan - Menjelaskan apa yang dicari dalam pekerjaan Yang dicari dalam pekerjaan adalah dimana bagian dari sebuah perencanaan besar atau bahwa pekerjaan itu menuju proses terwujudnya suatu yang besar. * Mencari Uang. Hal ini adalah hal yang paling dasar, yang mendorong seseorang untuk bekerja. Untuk mencari nafkah (uang), untuk mencukupi kebutuhannya dan keluarga. Hal ini juga yang biasa digunakan sebagai pertimbangan dalam memilih suatu pekerjaan. Semakin besar gaji (uang) yang ditawarkan oleh pekerjaan tersebut, maka semakin menarik pekerjaan itu. Banyak orang yang berpindah-pindah kerja untuk mencari gaji yang lebih tinggi. * Mencari pengembangan diri. Adalah tabiat manusia untuk ingin berkembang menjadi lebih baik. Orang bekerja karena mereka karena mereka ingin pengembangan (potensi)diri mereka. Mereka akan mencari pekerjaan dimana mereka dapat mengembangkan diri mereka disana. * Mencari kebanggaan/kehormatan diri. Hal lain yang dicari oleh orang dengan bekerja adalah kebanggaan dan kehormatan diri. Orang yang mencukupi kebutuhan dirinya dengan bekerja lebih terhormat dibandingkan orang yang tergantung pada orang lain. - Fungsi Psikologis dan Pekerjaan Fungsi psikologisnya yaitu, meskipun apa kata orang tentang memiliki pekerjaan untuk hidup. Itu mungkin jelas sekarang bahwa setiap orang bekerja keras untuk uangnnya sendiri. Survei membuktikan kebanyakan orang akan melanjutkan pekerjaannya, bahkan jika mereka memiliki cukup uang untuk hidup nyaman seumur hidupnya (Renwick&Lawler, 1978). Kenyataannya adalah bekerja itu memenuhi kebutuhan psikologis dan sosial yang penting. Rasa pemenuhan pribadi, orang membutuhkan perasaan kalau mereka tumbuh, mempelajari keahlian baru, dan mencapai sesuatu yang berharga ketika perasaan ini kurang, mereka mungkin pindah ke pekerjaan yang menjanjikan pencapaian yang lebih B. Posisi dalam Memilih Pekerjaan - Menjelaskan fase-fase identitas pekerjaan Seorang individu membutuhkan pekerjaan untuk bertahan hidup atau memenuhi kebutuhanya sehari-hari. Biasanya mereka memilih suatu pekerjaan yang sesuai dengan keahlian yang mereka miliki. Dalam memilih pekerjaan manusia akan mau dan mampu untuk bekerja dengan baik bilamana ia ditempatkan pada posisi dengan jabatan yang sesuai dengan minat dan kemampuannya, serta bila mana ia bisa memenuhi kebutuhannya dengan melakukan pekerjaan itu. lni berarti bahwa perusahaan harus bisa menempatkan orang pada jabatan-jabatan yang sesuai dengan minat dan kemampuannya, dengan tidak lupa mempertimbangkan upaya pemenuhan kebutuhannya. Sebelum di tempatkan pada posisi yang sesuai dengan minat dan kemampuanya, para calon tenaga kerja biasanya terlebih dahulu mengikuti seleksi yang diadakan oleh pihak perusahaan yang bertujuan untuk mencari calon tenga kerja yang memang benar-benar menguasai keahlian didalam bidang yang dicari oleh pihak perusahaan. ada enam tahapan yang harus dijalani han suroleh seorang calon tenaga kerja, yaitu: 1. Tahap penyerahan surat lamaran 2. Tahap wawancara 3. Tahap perekrutan 1) Tahap pertama adalah pada umur 15 - 22 tahun: Pada tahap ini, seseorang umumnya memilih jurusan, yang menurutnya baik dan ia suka. Apakah seseorang memilih jurusan tertentu oleh karena masalah imej jurusan tersebut- ini adalah salah satu faktor. Bisa juga ia memilih jurusan tertentu karena rekomendasi orang tua dan sisi ekonomi atau peluang kerja. Beragam alasan orang memilih jurusan tertentu di sekolah atau kampus. 2) Tahap kedua adalah pada umur 22 - 30 tahun: Pada fase ini, orang memilih karir sesuai dengan jurusan yang ia pelajari di kampus. Ia tertarik dengan pekerjaan barunya dan mulai menekuni apa yang ia pilih. Ini biasanya bisa terjadi sampai umur 30 tahun. Ada gairah terhadap pekerjaan apalagi kalau di perusahaan tempat ia bekerja ada suasana kondusif ditambah dengan jenjang karier yang jelas. 3) Tahap ketiga adalah pada umur 30 - 38 tahun: Bila seseorang menekuni pekerjaannya pada fase kedua, kinerjanya akan semakin baik pada phase ini. Kinerjanya umumnya di atas rata-rata. Gairah kerja semakin bertambah. Ia mungkin mencapai posisi manager dalam sebuah perusahaan pada phase ini. Karir semakin mantap dan bisa sampai menduduki posisi Vice President. Ini tergantung berapa bagus kinerjanya dan berapa baik budaya korporasi di perusahaan. 4) Tahap keempat adalah pada umur 38 - 45 tahun: Inilah tahapan atau fase yang tepat untuk memikirkan ulang pekerjaan yang seharusnya ditekuni. Pada phase ini biasanya orang mulai makin sadar akan pekerjaan yang seharusnya ia tekuni. Ini adalah fase yang kritis karena pada phase ini akan muncul pertanyaan, "Mau ke mana arah atau jalur karir yang akan ditempuh?" Pada fase ini persaingan ke posisi yang lebih tinggi semakin ketat. Peluang untuk naik ke posisi yang banyak membuat kebijakan strategis semakin kecil karena persaingan atau ada orang yang lebih hebat atau lebih cerdas dari Anda untuk menduduki posisi tersebut. Pada saat yang sama, Anda juga ingin merasakan keleluasaan untuk memberikan keputusan. Ada keinginan untuk membuat keputusan-keputusan yang lebih besar bagi perusahaan atau organisasi yang akan menambah kepuasan diri juga; ada self-actualisation- meminjam istilah dari Abraham Maslow. 5) Tahap kelima adalah pada umur 45 - 55 tahun: Bila seseorang lolos pada fase ke empat, biasanya ia akan semakin mantap pada phase ini, khususnya mereka yang memilih karir atau menemukan pekerjaan yang cocok dengan bakat dan talenta pribadinya. Karirnya akan semakin bersinar. Ada kematangan baik dalam jiwa dan dalam pekerjaan. Ia semakin mengerti tujuan perusahaan. Ia makin mengerti relasi dari organisasi dengan masyarakat luas. Namun, pada fase ini juga orang akan mulai mengalami kebosanan di pekerjaan kalau salah mengambil keputusan pada tahap kelima. Jangankan di phase ini, pada phase keempat pun orang sudah mulai merasakan kebosanan dalam pekerjaan. Gairah kerja hilang karena tidak ada keputusan berarti yang bisa dilakukan bagi perusahaan. 6) Tahap keenam adalah umur 55 - 62 tahun: Orang-orang yang sukses melewati tahap ke empat dan kelima akan mengalami gairah kerja yang semakin bertambah pada fase ini. Kreatifitas muncul; ide-ide baru utuk memperbaiki organisasi melintas dalam pikiran. Vitalitas orang semakin bertambah dalam pekerjaan pada phase ini. 'Self-actualization' semakin matang dan mulai mempersiapkan diri utuk memasuki phase terakhir. 7) Tahap ketujuh adalah 62 - 70 tahun: Pada fase ini orang mulai memikirkan bagaimana meneruskan karir yang sudah dibangun atau perusahaan yang sudah dirintis dan berjalan. Ia mulai memikirkan siapa yang akan menggantikannya di kemudian hari. Bila Anda kebetulan pada fase ini, Anda sudah harus memikirkan bagaimana agar apa yang sudah dimulai dan dikerjakan bisa diteruskan dalam track yang benar oleh penerus Anda. C. Memilih Pekerjaan yang Cocok -Menjelaskan hubungan antara karakteristik pribadi-pribadi dan karakteristik pekerjaan dalam memilih pekerjaan yang cocok A) Karakteristik Pribadi Sebuah awal yang bagus adalah memilih ketertarikan apa yang kamu punya pada diri sendiri dan kemampuan. Kalian adalah sebuah gabungan unik dari sifat pribadi,ketertarikan,keahlian dan harga. Semakin baik yang kalian dapat ketahui mengenai diri kalian sendiri maka lebih bijaksanadalam mengambil keputusan. Apa yang paling membuat anda tertarik.data atau sesuatu?pelajaran apa yang paling anda sukai di sekolah? Kegiatan Ekstrakurikuler apa yang anda sukai? Bagaimana dengan kerja paruh waktu? Coba temukan mengenai apa pekerjaan tersebut yang membuat mereka tertarik kepada anda. Apakah itu kegiatanya sendiri? Atau orang-orang didalamnya? Bagaimana dengan kemampuan anda? Apa pekerjaan terbaik yang anda bisa lakukan?yang paling anda kuasai?tidak peduli berapa banyak kemampuan yang anda miliki. Penting untuk menyadari bahwa masing-masing dari kita berkualitas untuk banyak kedudukan yang berbeda.tidak hanya satu. Seperti olahraga athletic termasuk terbatas untuk sejumlah orang yang memiliki otot dan keahlian. Jadi kebanyakan pekerjaan memerlukan hanya beberapa keahlian spesifik atau karakteristik. Rahasianya terletak pada menemukan jenis pekerjaan yang memerlukan kekuatan tertentu yang anda miliki. Untuk memperluas kedua ketertarikan dan bakat kalian akan berubah dengan pengalaman dan waktu. Penelitian sudah menunjukkan kategori ketertarikan yang luas, seperti pada bidang obat-obatan.teknik atau bisnis, tetap stabil dari para remaja.(Campbell,1971). Jika kalian menyukai sesuatu pada saat anda belasan dan awal 20, kesempatan yang sama akan kalian sukai pada tahun-tahun selanjutnya. Mungkin kalian pernah mendengar seseorang mengambil sebuah tes psikologi untuk membantu pemilihan karir. Sebenarnya , kebanyakan dari persediaan ketertarikan anda daripada sebuah test biasa. Saat ini, satu dari kebanyakan menggunakan instrument tes adalah Strong-Campbell Interest Inventory (SCII) yang mana menggabungkan banyak item dari versi awalnya Strong Inventory for males and females dengan menghilangkan item yang berdasarkan jenis kelamin.hasilnya, yang mana biasanya dibagi secara terbuka dengan individu, menunjukan bagaimana ketertarikan seorang individu dibandingkan dengan orang-orang lain yang memiliki kedudukan yang berbeda. Apakah tes ketertarikan tersebut membantu anda membuat keputusan yang tepat pada pemilihan kerja? Semua tergantung dari bagaimana kita menggunakanya. Jika kalian mengandalkan hasil tersebut sebagai sebuah pengganti untuk membuat keputusan pribadi,maka jawabanya akan negative. Tapi jika kalian menggunakan hasil tersebut sebagai sebuah sumber untuk mengklarifikasi ketertarikan kalian dalam rangka untuk membuat sebuah keputusan,maka jawabanya pasti positif. Seperti halnya instrument yang menunjukan reliabilitas yang besar dalam memprediksi apa seorang individu akan bersikeras atay keluar dari bidang pekerjaan tersebut. Mereka tidak bisa memprediksi kesuksesan pada bidang yang diberikan karena kebanyak factor subjektif terlibat didalamnya. Tapi sudah itemukan bahwa apa yang membuat berhasil biasanya mendemonstrasikan lebih tinggin daripada rata-rata skor ketertarikan,sementara siapa yang akan keluar nanti biasanya lebih rendah daripada rata-rata skor(Shertzer,1981) B) Karakteristik Pekerjaan Sekali anda memulai menjelajahi ketertarikan anda sendiri,kemampuan,dan nilai, kalian siap untuk mencari pekerjaan yang cocok dengan karakteristik pribadi anda. Dengan lebih dari 20.000 pekerjaan yang berbeda untuk dipilih,ini bukanlah tugas mudah. Untungnyam ada sumber buku untuk membati pencarian tersebut. Seperti yang banyak digunakan Dictionary of Occupational (DOT) dan Occupational Outlook Hand-book. Kedua buku direvisi secara teratur oleh pemerintah percetakan. Sebagai tambahan, berbagai macam pekerjaan sudah teratur pada dasar keluarga ataukelompok dari pekerjaan yang terkait. Masing-masing kelompok menunjukan tokoh 9-1 berisi ratusan pekerjaan yang terdekat. Contohnya, bidang kesehatan termasuk sejumlah besar pekerja kesehatan-dokter,perawat,apoteker, dokter gigi,kebersihan gigi,hanya untuk beberapa nama. Ini sering membantu memilih 2 dari 3 pekerjaan kelompok yang kalian paling tertarikm dan mulai menelusuri beberapa pekerjaan spesifik pada kelompoknya. Sebuah perangkat yang membantu untuk menemukan pekerjaan yang paling cocok untuk kamu adalah John Holland’s Self Directied Search For Vocational Planning.Yang mana dapat dikelola sendiri. Ini berdasarkan dari kenyataan bahwa manusia di bidang pekerjaan yang samasering memiliki sifat yang mirip,ketertarikan dan kebiasaan dalam melakukan sesuatu. Holland (1973) menggambarkan 6 dari jenis kepribadian bersama dengan lingkungan kerja mereka yang baik. Setelah mencocokan sejumlah kegiatan,ketertarikan dan perkiraan kemampuan anda sendiri, kalian menjumblahkan item untuk menemukan 3 jenis kepribadian yang paling menyerupai.kemudian pada pekerjaan yang terpisah penemu buklet, kalian mencocokan berbagai jenis kepribadian digabungkan dengan beberapa pekerjaan yang cocok. O’connel dan Sedlacek (1972) sudah menemukan Self-Directed searchlebih handal dan sedikit membantu untuk perencanaan ketertarikan jurusan. D. Penyesuaian Diri dalam Pekerjaan - Menjelaskan tentang kemampuan kerja, perubahan dalam persediaan dan permintaan dan berganti pekerjaan Menjelaskan Tentang Kepuasan Kerja, Pernyesuaian Diri Dalam Pekerjaan Memilih pekerjaan yang tepat memang perlu proses, bukan hanya disandarkan akan adanya peluang tapi juga berdasarkan kemampuan dan bakat yang anda miliki. Salah satu cara untuk memilih pekerjaan yang baik yaitu dengan mencocokan antara pekerjaan dan kepribadian. Berikut beberapa kepribadian yang bisa menjadi dasar untuk memilih pekerjaan yang cocok untuk anda: · Konvensional yaitu memiliki kepribadian yang menyukai dengan aturan, prosedur tetap, jadwal, instruksi ketimbang harus berfikir dengan ide kreatif. Pekerjaan yang tepat untuk pribadi konvensional ini adalah akuntan, aktuaria, inspektur keamanan, keuangan, perencana keuangan, dan penulis teknis. · Realistik adalah orang yang menyukai hasil akhir, menyukai persoalan dan masalah yang harus dipecahkan. Mereka senang bekerja di luar ruang, bekerja dengan mesin, alat-alat berat, dan perhiasan. Pekerjaan yang baik untuk tipe realistik adalah ahli elektro, ahli nuklir, dokter gigi, dan ahli kunci. · Sosialis yaitu orang yang senang dengan kegiatan sosial membantu penderitaan orang banyak. Mereka pandai berkomunikasi, bekerjasama dengan team dan merasa nyaman dalam berinteraksi dengan orang lain. Pekerjaan bagus adalah pelatih pribadi, psikolog sekolah, bimbingan siswa, guru, relawan dan motivator. · Penyelidik merupakan orang yang senang bekerja sendiri, menyelidiki sesuatu, menggunakan logika, menyelesaikan masalah dan misteri, menyatukan masalah yang tercerai, presisi, dan ilmu pasti. Profesi yang tepat yaitu analis sistem komputer, optometris, profesor ilmu alam, insinyur piranti lunak, dan pelaku statistik. · Wirausahawan yaitu orang yang pandai melihat peluang dan berani mengubahnya untuk suatu keuntungan. Pribadi wirausaha selalu action apabila melihat peluang dan merekapun memiliki kemampuan memimpin dan mengorganisir sumberdaya. Pekerjaan yang cocok adalah agen sales di advertising, pekerja finansial, analisis manajemen, direktur program, sales manager dan pastinya membuat usaha sukses sendiri. E. Waktu Luang -Menjelaskan bagaimana menggunakan waktu luang secara positif Waktu adalah satu-satunya modal yang dimiliki oleh manusia, dan ia tidak boleh sampai kehilangan waktu. – Thomas A. Edison Meluangkan waktu itu ternyata penting dan banyak cara/kegiatan positif yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu luang. Misalnya olahraga, jalan-jalan, melakukan hobby, atau ngeblog. Selain itu, mengisi waktu luang setelah kesibukan yang mendera ibarat bayaran dari pekerjaan itu sendiri. Kita tidak pernah menduga kalau kegiatan yang dilakukan di saat waktu luang bisa juga menghasilkan atau mendapat penghargaan. Siapa yang tahu kalau suatu saat nanti, kegiatan yang dilakukan di waktu luang, bisa menjadi penghasilan terbesar. Dan bagaimana kita bisa punya waktu luang di sela-sela kesibukan dengan mengaturnya sebaik mungkin? Berikut ini tips dan triknya: 1. Jangan pernah terjebak dgn waktu. Bukan waktu yg mengatur kita, tapi kitalah yang mengatur waktu 2. Coba sesuatu yang baru yang tidak menyita waktu kerja. Misalnya dengan menulis di smartphone yang kita miliki. 3. Tentukan prioritas. Dengan prioritas bisa diketahui mana yang mendesak, mana yang kurang. Tanpa prioritas, waktu terbuang percuma. 4. Buat yang super sibuk, buatlah agenda yang harus ditaati. Masukkan waktu bekerja, waktu untuk keluarga, dan waktu untuk diri sendiri. 5. Pastikan dalam agenda, 50 persen waktu yang dilakukan adalah untuk kegiatan positif atau produktif. 6. Jangan melakukan pekerjaan/hal yang lain sebelum menuntaskan pekerjaan yang lebih dulu dilakukan. Yang ada keduanya berantakan! 7. Jika tidak berhubungan dgn pekerjaan, jauhkan diri dari sosial media, hingga pekerjaan tuntas diselesaikan. Menggunakan waktu dengan bijak, maka tidak ada istilah tidak punya waktu luang! Tidak ada waktu yang terbuang percuma. Kuncinya terletak bukan pada bagaimana Anda menghabiskan waktu, namun dalam menginvestasikan waktu Anda. Melakukan dua hal bersamaan sama artinya dengan tidak melakukan sesuatu. - Stephen R. Covey Jika merasa jenuh dengan waktu yang telah dihabiskan, ubah kebiasaan itu. Manfaatkanlah waktu luang. 2. Self Directed Chargers - Konsep dan Penerapan Directed Chargers 1) Meningkatkan kontrol diri: mendasarkan diri pada kesadaran bahwa pada setiap manusia memiliki kemampuan untuk mengembangkan dirinya sesuai dengan kondisi yang dimiliki setiap manusia. Itu dapat terjadi sebagai akibat perubahan dalam struktur kognitif yang dihasilkan oleh perubahan struktur kognitif itu sendiri atau perubahan kebutuhan juga adanya motivasi internal serta belajar yang efektif. 2) Menetapkan tujuan: dimaksudkan untuk menjaga individu agar tetap tertuju pada proses pembelajaran, dalam arti dapat mengetahui dan mampu secara mandiri menetapkan mengenai apa yang ingin dipelajari dalam mencapai kesehatan mental, serta tahu akan kemana tujuan hidupnya, cakap dalam mengambil keputusan dan mampu berpartisipasi di masyarakat dan akan mampu mengarahkan dirinya. 3) Menyusun konsekuensi yang efektif: pemahaman dalam arti sehat mental dapat menentukan perubahan pada individu dalam melakukan mobilitas untuk melakukan segala sesuatu aktifitas –aktifitas yang dilakukan oleh manusia, dalam menanggapi stimulus lingkungan, yang meliputi aktivitas motoris, emosional,dan kognitif dalam mencapai kematangan mental. 4) Menerapkan perencana intervensi: membawa perubahan, tentunya pada perubahan yang lebih baik. Dalam arti pemahaman nilai-nilai, karakter / watak, dan cara cara berperilaku secara individual. Dalam arti kita harus lebih memahami cara berperilaku pada kegiatan proses pembentukan watak dan pembelajaran secara terencana. 5) Evaluasi: faktor yang penting untuk mencapai kematangan pribadi, sedangkan salah satu faktor penting untuk mengetahui keefektivan adalah evaluasi baik terhadap proses maupun hasil pembelajaran. Sumber : http://amanda2609.blogspot.com/2013/07/pekerjaan-dan-waktu-luang.html http://anyoo.blogspot.com/2011/05/nilai-pekerjaan.html http://tyox.wordpress.com/2011/07/05/apa-yang-dicari-dalam-bekerja/ http://informasitips.com/karir-sesuai-dengan-karakter-kepribadian http://bloggerbekasi.com/2012/10/03/meluangkan-waktu-dengan-hal-positif.html

Selasa, 10 Juni 2014

HUBUNGAN INTERPERSONAL, CINTA DAN PERKAWINAN

1. HUBUNGAN INTERPERSONAL Hubungan interpersonal adalah dimana ketika kita berkomunikasi, kita bukan sekedar menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonalnya. Jadi ketika kita berkomunikasi kita tidak hanya menentukan content melainkan juga menentukan relationship. Dari segi psikologi komunikasi, kita dapat menyatakan bahwa makin baik hubungan interpersonal, makin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya; makin cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi dirinya; sehingga makin efektif komunikasi yang berlangsung diantara komunikan. Ada beberapa teori yang menjelaskan mengenai hubungan interpersonal, yaitu: A. Model-model hubungan Interpersonal Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya. Thibault dan Kelley, dua orang pemuka dari teori ini menyimpulkan model pertukaran sosial sebagai berikut: “Asumsi dasar yang mendasari seluruh analisis kami adalah bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya“. Analisis Transaksional Pengertian analisis transaksional. Kata transaksi selalu mengacu pd proses pertukaran dlm suatu hubungan. Dalam komunikasi antar pribadi juga dikenal transaksi à yg dipertukarkan adalah pesan-pesan, baik verbal maupun non verbal. Analisis transaksional adalah suatu model analisis komunikasi dimana seseorang menempatkan dirinya menurut posisi psikologi yg berbeda (Eric Berne’s, Stuart Sundeen, 1995). Tujuan: Analisis transaksional bertujuan unt mengkaji secara mendalam proses transaksi siapa – siapa yg terlibat di dalamnya pesan apa yg dipertukarkan. Komponen Analisis Transaksional (Rungapadiachy, 1999): -Analisis Struktur -Analisis Transaksi -Analisis Permainan -Analisis Naskah B. Memulai Hubungan Pembentukan kesan sangat penting untuk ada nya ketertarikan interpersonal ,ada tahap tahapan untuk menjalin hubungan interpersonal antara lain : 1. Pembentukan Pembentukan apa sih? Tahap ini sering disebut juga dengan tahap perkenalan. Peneliti telah menemukan hal-hal menarik dari proses perkenalan. Fase pertama, “fase kontak yang permulaan”, ditandai oleh usaha kedua belah pihak untuk menangkap informasi dari reaksi kawannya. Masing-masing pihak berusaha menggali secepatnya identitas, sikap dan nilai pihak yang lain. Bila mereka merasa ada kesamaan, mulailah dilakukan proses mengungkapkan diri. Menurut Charles R. Berger informasi pada tahap perkenalan dapat dikelompokkan pada tujuh kategori, yaitu: a) informasi demografis b) sikap danpendapat (tentang orang atau objek) c) rencana yang akan datang d) kepribadian e) perilaku pada masa lalu f) orang lain g) hobi dan minat 2. Peneguhan Hubungan Karena hubungan interpersonal tidak bersifat statis, selalu berubah, perubahan maka untuk memelihara dan memperteguh hubungan interpersonal, maka diperlukan adanya tindakan–tindakan tertentu untuk mengembalikannya adanya keseimbangan. Ada empat faktor penting dalam memelihara keseimbangan ini, yaitu: a) keakraban b) control c) respon yang tepat dan d) nada emosional yang tepat. Apa sih itu keakraban? Keakraban merupakan pemenuhan kebutuhan akan kasih sayang. Hubungan interpersonal akan terperlihara apabila kedua belah pihak sepakat tentang tingkat keakraban yang diperlukan. Faktor kedua adalah kesepakatan tentang siapa yang akan mengontrol siapa, dan bilamana. Jika dua orang mempunyai pendapat yang berbeda sebelum mengambil kesimpulan, siapakah yang harus berbicara lebih banyak, siapa yang menentukan, dan siapakah yang dominan. Konflik terjadi umumnya bila masing-masing ingin berkuasa, atau tidak ada pihak yang mau mengalah. Faktor ketiga adalah ketepatan respon. Dimana, respon A harus diikuti oleh respon yang sesuai dari B. Contohnya : Pertanyaan harus disambut dengan jawaban, lelucon dengan tertawa. Respon ini bukan saja berkenaan dengan pesan - pesan verbal, tetapi juga pesan-pesan nonverbal. Misalnya Jika pembicaraan yang serius dijawab dengan main-main, ungkapan wajah yang bersungguh-sungguh diterima dengan air muka yang menunjukkan sikap tidak percaya, maka hubungan interpersonal mengalami keretakan. Ini berarti kita sudah memberikan respon yang tidak tepat. Faktor terakhir yang dapat memelihara hubungan interpersonaladalah adanya keserasian suasana emosi ketika komunikasi sedang berlangsung. Walaupun mungkin saja terjadi interaksi antara dua orang dengan suasana emosional yang berbeda, tetapi interaksi itu tidak akan stabil. Besar kemungkinan salah satu pihak akan mengakhiri interaksi atau mengubah suasana emosi. C. Hubungan Peran Model peran apa itu? Model peran dalam hubungan interpersonal di sini di anggap sebagai panggung sandiwara .di sini semua orang di minta buat memainkan perannya sesuai dengan naskah yang sudah di buat oleh masyarakat . Contohnya : Anak sekolah menjalankan perannya sebagai pelajar yang perannya adalah belajar Ibu yang perannya mengurus keluarga Hubungan interpersonal berjalan baik apabila seseorang itu menjalannkan perannya dengan baik sesuai dengan peran yang di jalankan. D. Intimasi dan Hubungan Pribadi Apa itu intimacy? Menurut Steinberg (1993) berpendapat bahwa suatu hubungan intim adalah sebuah ikatan emosional antara dua individu yang didasari oleh kesejahteraan satu sama lain, keinginan untuk memperlihatkan pribadi masing-masing yang terkadang lebih bersifat sensitif serta saling berbagi kegemaran dan aktivitas yang sama. Sullivan (Prager, 1995) mendefinisikan intimasi sebagai bentuk tingkah laku penyesuaian seseorang untuk mengekspresikan akan kebutuhannya terhadap orang lain. Intimasi juga adalah salah satu atribut yang paling menonjol dalam suatu hubungan intim daripada hubungan pribadi yang lain. Keintiman (intimacy) sangat berkaitan dengan derajat kecintaan, kepercayaan, kepuasan, tanggung jawab dan pengertian pasangan dalam hubungan yang dekat (intim). Keintiman juga memberikan sumbangan besar dalam memenuhi kebutuhan individu dan keintiman itu pun memberikan efek positif pada kebaikan pasangan dalam suatu hubungan pertemanan (Prager & Buhrmester) untuk mejalin hubungan pribadi diperlukan adanya intimacy. Cinta interpersonal membutuhkan tiga hal: Intimacy, Passion, dan Commitment. Perasaan dekat dan nyaman muncul dari kualitas kebersamaan yang bagus. Keberasamaan yang menciptakan Intimacy dan kenyamanan ini adalah sebuah wujud awal dari cinta yang sering disebut sebagai persahabatan atau pertemanan (Liking/Friendship). Proses pendekatan itu proses dimana kebersamaan yang menciptakan Intimacy dan kenyamanan yang merupakan wujud awal cinta. Jika Intimacy, Passion, dan Commitment terpenuhi, maka sebuah hubungan akan menjadi sempurna karena dliliputi oleh cinta yang menyeluruh (Consummate Love). Namun, keadaan yang penuh cinta yang menyeluruh ini bisa berlangsung selamanya dan bisa juga tidak. Kenapa? Semua bergantung pada proses memelihara tiga hal tersebut yang dipenuhi berbagai rasa, mulai dari sedih, gembira, puas, kecewa, rindu bahkan bosan. Ketika Intimacy yang hilang, maka yang terjadi adalah cinta absurd (Fatuous Love). Apa itu fatuos love /cinta absurd? Cinta absurd adalah cinta yang bersandar pada Passion dan Commitment, seperti mempertahankan pernikahan atau berpacaran karena teman, orangtua, usia, dan motivasi dari luar lainnya. Hanya saja, ada motivasi pada ketertarikan pribadi dan fisik, dan Comitment yang tidak bertujuan menjaga hubungan, tapi lebih bertujuan mengejar materi atau kekuasaan. Cinta ini menjadi absurd karena hal yang paling awal tidak ada lagi. Hilangnya Intimacy terjadi, juga karena respon yang tidak tepat terhadap rasa yang menyertai sebuah hubungan, seperti sedih, gembira, puas, kecewa, rindu bahkan bosan. E. Intimasi Dan Pertumbuhan Apapun alasan untuk berpacaran, untuk bertumbuh dalam keintiman, yang terutama adalah cinta. Keintiman tidak akan bertumbuh jika tidak ada cinta . Keintiman berarti proses menyatakan siapa kita sesungguhnya kepada orang lain. Keintiman adalah kebebasan menjadi diri sendiri. Keintiman berarti proses membuka topeng kita kepada pasangan kita. Bagaikan menguliti lapisan demi lapisan bawang, kita pun menunjukkan lapisan demi lapisan kehidupan kita secara utuh kepada pasangan kita. Keinginan setiap pasangan adalah menjadi intim. Kita ingin diterima, dihargai, dihormati, dianggap berharga oleh pasangan kita. Kita menginginkan hubungan kita menjadi tempat ternyaman bagi kita ketika kita berbeban. Tempat dimana belas kasihan dan dukungan ada didalamnya. Namun, respon alami kita adalah penolakan untuk bisa terbuka terhadap pasangan kita. Hal ini dapat disebabkan karena : (1) kita tidak mengenal dan tidak menerima siapa diri kita secara utuh. (2) kita tidak menyadari bahwa hubungan pacaran adalah persiapan memasuki pernikahan. (3) kita tidak percaya pasangan kita sebagai orang yang dapat dipercaya untuk memegang rahasia. (4) kita dibentuk menjadi orang yang berkepribadian tertutup. (5) kita memulai pacaran bukan dengan cinta yang tulus . 2. CINTA DAN PERKAWINAN A. Memilih Pasangan Dalam suatu hubungan harus kita harus pinter untuk memilih pasangan,pasangan yang bisa menerima kita apa adanya dan bisa menutupi kekurangan yang ada dalam diri kita sehingga kita bisa melengkapi satu sama lain.Dalam memilih pasangan tidak harus mlihat kecantikan luarnya saja tetapi lebih baiknyaa melihat kecantikan dalam dirinya. B. Hubungan dalam Perkawinan Fase bulan madu. Fase ini merupakan periode ideal dalam pernikahan. Pasangan cenderung memiliki perasaan positif. Hubungan pun selalu romantis. Pasangan selalu membicarakan berbagai hal yang belum pernah mereka bahas sebelumnya. Pasangan menikah saling memahami dan menghargai pandangan masing-masing. Pada fase inilah pasangan merasakan jatuh cinta yang mendalam, sehingga sikap mereka pun cenderung lebih toleran, fleksibel, terhadap pasangannya. Pasangan menjadi prioritasnya. Sehingga anggapan bahwa cinta mengalahkan segalanya, berlaku pada fase ini. Kalau pun muncul konflik, pasangan menikah di tahapan bulan madu ini akan fokus menjadi solusi. Fase ini berlangsung antara enam bulan hingga dua tahun. Fase penyesuaian. Fase ini paling menantang dalam hubungan pernikahan. Pasangan menikah tak lagi melihat dirinya masing-masing sebagai partner. Konflik dalam hubungan umumnya terjadi seputar masalah seks, intimasi, uang, rasa aman, dan masalah anak. Psikolog Azin Nasseri mengatakan, “Tingginya angka perceraian lebih banyak berkaitan dengan cara pasangan menghadapi konflik. Kurangnya kemampuan dan pengetahuan mengenai cara membangun hubungan yang sehat. Termasuk cara memahami dinamika cinta yang alami terjadi.” Kalau saja pasangan mampu dan berkomitmen mengatasi konflik yang membuat mereka merasa kesepian, juga memutuskan untuk mengatasi rasa takit, marah dan penolakan, mereka bisa melewati fase ini lebih baik. Pasangan pun akan memiliki komitmen baru dalam hubungan, dan memiliki apresiasi lebih tinggi juga cinta pada pasangannya. Fase kekosongan. Fase ini menandai hari jadi pernikahan ke-20. Pasangan menikah secara perlahan melepas tanggung jawabnya mengasuh anak. Anak-anak mulai beranjak dewasa, bahkan mulai bisa hidup mandiri. Pada periode ini, pasangan menikah mulai memikirkan apa yang ingin dilakukan bersama menikmati kehidupan berikutnya. C. Penyesuaian dan Pertumbuhan dalam Perkawinan Fase penyesuaian. Fase ini paling menantang dalam hubungan pernikahan. Pasangan menikah tak lagi melihat dirinya masing-masing sebagai partner. Konflik dalam hubungan umumnya terjadi seputar masalah seks, intimasi, uang, rasa aman, dan masalah anak. D. Perceraian dan Pernikahan Kembali Perceraian adalah berakhirnya suatu pernikahan. Saat kedua pasangan tak ingin melanjutkan kehidupan pernikahannya, mereka bisa meminta pemerintah untuk dipisahkan. Selama perceraian, pasangan tersebut harus memutuskan bagaimana membagi harta mereka yang diperoleh selama pernikahan (seperti rumah, mobil, perabotan atau kontrak), dan bagaimana mereka menerima biaya dan kewajiban merawat anak-anak mereka. Banyak negara yang memiliki hukum dan aturan tentang perceraian, dan pasangan itu dapat diminta maju ke pengadilan. E. Alternative Selain Pernikahan Paradigma terhadap lajang cenderung memojokkan. pertanyaannya kapan menikah?? Ganteng-ganteng kok ga menikah? Apakah Melajang Sebuah Pilihan?? Ada banyak alasan untuk tetap melajang. Perkembangan jaman, perubahan gaya hidup, kesibukan pekerjaan yang menyita waktu, belum bertemu dengan pujaan hati yang cocok, biaya hidup yang tinggi, perceraian yang kian marak, dan berbagai alasan lainnya membuat seorang memilih untuk tetap hidup melajang. Batasan usia untuk menikah kini semakin bergeser, apalagi tingkat pendidikan dan kesibukan meniti karir juga ikut berperan dalam memperpanjang batasan usia seorang untuk menikah. Keputusan untuk melajang bukan lagi terpaksa, tetapi merupakan sebuah pilihan. Itulah sebabnya, banyak pria dan perempuan yang memilih untuk tetap hidup melajang. Persepsi masyarakat terhadap orang yang melajang, seiring dengan perkembangan jaman, juga berubah. Seringkali kita melihat seorang yang masih hidup melajang, mempunyai wajah dan penampilan di atas rata-rata dan supel. Baik pelajang pria maupun wanita, mereka pun pandai bergaul, memiliki posisi pekerjaan yang cukup menjanjikan, tingkat pendidikan yang baik. Alasan yang paling sering dikemukakan oleh seorang single adalah tidak ingin kebebasannya dikekang. Apalagi jika mereka telah sekian lama menikmati kebebasan bagaikan burung yang terbang bebas di angkasa. Jika hendak pergi, tidak perlu meminta ijin dan menganggap pernikahan akan membelenggu kebebasan. Belum lagi jika mendapatkan pasangan yang sangat posesif dan cemburu. Banyak perusahaan lebih memilih karyawan yang masih berstatus lajang untuk mengisi posisi tertentu. Pertimbangannya, para pelajang lebih dapat berkonsentrasi terhadap pekerjaan. Hal ini juga menjadi alasan seorang tetap hidup melajang. Banyak pria menempatkan pernikahan pada prioritas kesekian, sedangkan karir lebih mendapat prioritas utama. Dengan hidup melayang, mereka bisa lebih konsentrasi dan fokus pada pekerjaan, sehingga promosi dan kenaikan jabatan lebih mudah diperoleh. Biasanya, pelajang lebih bersedia untuk bekerja lembur dan tugas ke luar kota dalam jangka waktu yang lama, dibandingkan karyawan yang telah menikah. Kemapanan dan kondisi ekonomi pun menjadi alasan tetap melajang. Pria sering kali merasa kurang percaya diri jika belum memiliki kendaraan atau rumah pribadi. Sementara, perempuan lajang merasa senang jika sebelum menikah bisa hidup mandiri dan memiliki karir bagus. Mereka bangga memiliki sesuatu yang dihasilkan dari hasil keringat sendiri. Selain itu, ada kepuasaan tersendiri. Banyak yang mengatakan seorang masih melajang karena terlalu banyak memilih atau ingin mendapat pasangan yang sempurna sehingga sulit mendapatkan jodoh. Pernikahan adalah untuk seumur hidup. Rasanya tidak mungkin menghabiskan masa hidup kita dengan seorang yang tidak kita cintai. Lebih baik terlambat menikah daripada menikah akhirnya berakhir dengan perceraian. Lajang pun lebih mempunyai waktu untuk dirinya sendiri, berpenampilan lebih baik, dan dapat melakukan kegiatan hobi tanpa ada keberatan dari pasangan. Mereka bebas untuk melakukan acara berwisata ke tempat yang disukai dengan sesama pelajang. Pelajang biasanya terlihat lebih muda dari usia sebenarnya jika dibandingkan dengan teman-teman yang berusia sama dengannya, tetapi telah menikah. Ketika diundang ke pernikahan kerabat, pelajang biasanya menghindarinya. Kalaupun datang, mereka berusaha untuk berkumpul dengan para sepupu yang masih melajang dan sesama pelajang. Hal ini untuk menghindari pertanyaan singkat dan sederhana dari kerabat yang seusia dengan orangtua mereka. Kapan menikah? Kapan menyusul? Sudah ada calon? Pertanyaan tersebut, sekalipun sederhana, tetapi sulit untuk dijawab oleh pelajang. Seringkali, pelajang juga menjadi sasaran keluarga untuk dicarikan jodoh, terutama bila saudara sepupu yang seumuran telah menikah atau adik sudah mempunyai pacar. Sementara orangtua menginginkan agar adik tidak melangkahi kakak, agar kakak tidak berat jodoh. Tidak dapat dipungkuri, sebenarnya lajang juga mempunyai keinginan untuk menikah, memiliki pasangan untuk berbagi dalam suka dan duka. Apalagi melihat teman yang seumuran yang telah memiliki sepasang anak yang lucu dan menggemaskan. Bisa jadi, mereka belum menemukan pasangan atau jodoh yang cocok di hati. Itulah alasan mereka untuk tetap menjalani hidup sebagai lajang. Melajang adalah sebuah sebuah pilihan dan bukan terpaksa, selama pelajang menikmati hidupnya. Pelajang akan mengakhiri masa lajangnya dengan senang hati jika telah menemukan seorang yang telah cocok di hati. Kehidupan melajang bukanlah sebuah hal yang perlu ditakuti. Bukan pula sebuah pemberontakan terhadap sebuah ikatan pernikahan. Hanya, mereka belum ketemu jodoh yang cocok untuk berbagi dalam suka dan duka serta menghabiskan waktu bersama di hari tua. Arus modernisasi dan gender membuat para perempuan Indonesia dapat menempati posisi yang setara bahkan melebihi pria. Bahkan sekarang banyak perempuan yang mempunyai penghasilan lebih besar dari pria. Ditambah dengan konsep pilihan melajang, terutama kota-kota besar, mendorong perempuan Indonesia untuk hidup sendiri. Sumber: http://reginamintalangi.blogspot.com/2013_06_01_archive.html http://dwpujia.blogspot.com/2013_06_01_archive.html NAMA: Fieky Fansuri KELAS: 2PA11 NPM: 12512927

Minggu, 27 April 2014

Penyesuaian Diri dan Pertumbuhan serta Stress

1. Penyesuaian Diri & Pertumbuhan A. Penyesuaian Diri Pengertian penyesuaian diri adalah proses yang diharapi oleh individu dalam mengenal lingkungan yang baru. Menurut Schneider (dalam Partosuwido, 1993) penyesuaian diri merupakan kemampuan untuk mengatasi tekanan kebutuhan, frustasi dan kemampuan untuk mengembangkan mekanisme psikologis yang tepat. Menurut Callhoun dan Acocella (dalam Sobur, 2003), penyesuaian dapat didefinisikan sebagai interaksi individu yang kontinu dengan diri individu sendiri, dengan orang lain. dan dengan dunia individu. Menurut pandangan ahli diatas, ketiga faktor tersebut secara konstan mempengaruhi individu dan hubungan tersebut bersifat timbal balikmengingat individu secara konstan juga mempengaruhi kedua faktor lain. Menurut Schneider (1964), pengertian penyesuaian diri dapat ditinjau dari tiga sudut pandang, yaitu: 1) Penyesuaian sebagai adaptasi : menurut pandangan ini, penyesuaian diri cenderung diartikan sebagai usaha memperthankan diri secara fisik, bukan penyesuaian dalam arti psikologis, sehingga ada kompleksitas kepribadian individu dengan lingkungan yang terabaikan. 2) Penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas : penyesuaian diri diartikan sama dengan penyesuaian yang mencakup konformitas terhadap suatu norma. Pengertian ini menyiratkan bahwa individu seakan-akan mendapat tekanan kuat untuk harus selalu mampu menghindarkan diri dari penyimpangan perilaku, baik secara moral, sosial maupun emosional. Menurut sudut pandang ini, individu selalu diarahkan kepada tuntutan konformitas dan diri individu akan terancam tertolak jika perilaku individu tidak sesuai dengan norma yang berlaku. B. Pertumbuhan Personal Pertumbuhan personal adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses-proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal yang sehat pada waktu yang normal. Prof. Gessel mengatakan bahwa pertumbuhan pribadi manusia berlangsung secara terus menerus. a. Penekanan pertumbuhan/penyesuaian diri dan pertumbuhan Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologis. Secara umum konsep perkembangan dikemukakan oleh Werner (1957) bahwa perkembangan berjalan dengan prinsip orthogenetis, perkembangan berlangsung dari keadaan global dan kurang berdiferensiasi sampai keadaan dimana diferensiasi, artikulasi, dan integarasi meningkat secara bertahap. Proses diferensiasi diartikan sebagai prinsip totalitas pada diri anak. Dari penghayatan totalitas itu lambat laun bagian-bagiannya akan menjadi semakin nyata dan bertambah jelas dalam kerangka keseluruhan. b. Variasi dalam Petumbuhan Tidak selamanya individu berhasil dalam melakukan penyesuaian diri, karena kadang-kadang ada rintangan-rintangan tertentu yang menyebabkan tidak berhasil melakukan penyesuaian diri. Rintangan-rintangan itu mungkin terdapat dalam dirinya atau mungkin diluar dirinya. c. Kondisi-kondisi untuk bertumbuh Kondisi jasmaniah seperti pembawa dan struktur atau konstitusi fisik dan temperamen sebagai disposisi yang diwariskan, aspek perkembangannya secara intrinsik berkaitan erat dengan susunan atau konstitusi tubuh. Shekdon mengemukakan bahwa terdapat kolerasi yang tinggi antara tipe-tipe bentuk tubuh dan tipe-tipe tempramen (Surya< 1977). Misalnya orang yang tergolong ekstomorf yatiu ototnya lemah, tubuhnya rapuh, ditandai dengan sifat-sifat menahan diri, segan dalam aktifitas sosial, dan pemilu. Karena struktur jasmaniah merupakan kondisi primer bagi tingkah laku maka dapat diperkirakan bahwa sistem syaraf, kelenjar, dan otot merupakan faktor yang penting bagi proses penyesuaian diri. Beberapa penelitian menunjukan bahwa gangguan dalam sistem syaraf, kelenjar, dan otot dapat menimbulkan gejala-gejala gangguan mental, dtingkah laku, dan kepribadian. Dengan demikian, kondisi sistem tubuh yang baik merupakan syaraf bagi tercapainya proses penyesuaian yang baik. d. Fenomenolgi Pertumbuhan Fenomenologi memandang manusia hidup dalam "dunia kehidupan" yang dipersepsi dan diinterpretasi secara subyektif. Setiap orang mengalami dunia dengan caranya sendiri. "Alam pengalaman setia orang berbeda dari alam pengalaman orang lain." (Brouwer, 1983:14). Fenomenologi banyak mempengaruhi tulisan-tulisan Carl Rogers, yang boleh disebut sebagai Bapak Psikologi Humanistik. Carl Rogers menggarisbesarkan pandangan Humanisme sebagai berikut (kita pinjam dengan sedikit perubahan dari Coleman dan Hammen, 1974:33) 2. Stress A. Arti Penting Stress J.P. Chaplin dalam Kamus Lengkap Psikologi mendefinisikan stress sebagai suatu keadaan tertekan, baik secara fisik maupun psikologis. Begitu juga dengan Atkinson (1983), stress terjadi ketika orang dihadapkan dengan peristiwa yang mereka rasakan sebagai ancaman bagi kesehatan fisik maupun psikolgisnya. Keadaan sosial, lingkungan dan fisikal yang menyebabkan stress dinamakan stressor. Sementara reaksi orang terhadap peristiwa tersebut dinamakan respon stress atau stress. Manurut Lazarus 1999, stress adalah rasa cemas atau terancam yang timbul ketika kita menginterpretasikan atau menilai suatu situasi sebagai melampaui kemampuan psikologis kita untuk bisa menanganinya secara memadai. B. Tipe-Tipe Stress Psikologis a. Tekanan Tekanan merupakan suatu beban yang dirasakan oleh sesorang. Tekanan yang timbul dari tuntutan kehidupan sehari-hari dapat berasal dari dalam individu itu sendiri, misalnya apa yang kita inginkan atau harapan ternyata tidak sesuai dengan hasilnya. Tekanan yang berasal dari luar diri individu, misalnya paksaan dari orang tua saat menentukan jurusan dalam kuliah. b. Frustasi Frustasi dapat muncul akibat adanya suatu kegagalan ketika seseorang ingin mencapai suatu hal taua tujuan yang diinginkannya. Contoh : si Budi ingin masuk salah satu perguruan tinggi negeri namun ia gagal dan mengakibatkan frustasi. c. Konflik Konflik dapat terjadi apabila seorang individu harus memilih antara dua tujuan atau dua tindakan yang tidak sejalan. Konflik dibedakan berdasar nilai dari masing-masing pilihan, jika pilihannya memiliki tujuan yang positif bagi individu, maka dinamakan sebagai approach tendency. Sedangkan jika piliannya memiliki tujuan negatif dinamakan avoidance tendency. d. Kecemasan Kecemasan adalah emosi tidak menyenangkan yang ditandai oleh perasaan seperti khawatir, prihatin, tegang, dan takut yang dialami oleh semua orang teteapi dengan kadar dan tingkatan yang berbeda-beda. C. Symptom-Reducing Responses terhadap Stress Macam-macam penyesuaian diri terhadap stress, ada dua yaitu: memodifikasi a. Penyesuaian yang bersifat mengurangi atau memperlemah symptom stress b. Penyesuaian yang sifatnya berusaha atau membantu mengatasi secara lebih terarah sumber stress yang ada, disebut dengan penyesuaian efektif. Penyesuaian yang bersifat mengurangi symptom stress ada dua, yaitu : a. Yang bersifat tak disadari : seringkali dilakukan adalah defense mechanisme (mekanisme pertahanan diri atau ego). b. Yang bersifat disadari :membicarakannya dengan orang lain, melakukan pekerjaan lain yang mengurangi symptom stress. D. Pendekatan "Problem Solving" terhadap Stress Merupakan jenis penyesuaian terhadap stress yang bersifat disadair, berupaya menghilangkan sumber stress, tidak tergesa-gesa dan lebih terarah serta ada strategi tertentu, sehingga lebih efektif. Jenisnya: a. memodifikasi diri agar lebih toleran terhadap stress. b. memodifikasi situasi yang menimbulkan stress

Rabu, 02 April 2014

Kesehatan Mental

Kepribadian Sosial : a) Aliran Psikoanalistik Sigmund Freud (1856-1939) merupakan pendiri psikoanalisis. Menurut Freud, pikiran-pikiran yang direpres atau ditekan, merupakan sumber perilaku yang tidak normal/menyimpang. Pandangan Freud secara lengkap adalah sebagai berikut : • Kesadaran dan ketidaksadaran : berpendapat bahwa kehidupan psikis terdiri dari kesadaran (the conscious) dan ketidaksadaran (the unconscious). Kesadaran dapat diibaratkan sebagai permukaan gunung es yang nampak. Jadi kesadaran itu merupakan bagian kecil dari gunung es dibawah permukaan air mengandung insting-insting yang mendorong perilaku manusia. Menurut Freud, ada bagian lain yang disebut prasadar(preconscious). Dalam preconscious, stimulus-stimulus belum direpres, sehingga dapat dengan mudah ditimbulkan kembali dalam kesadaran. • Selanjutnya Freud mempunyai pandangan bahwa kepribadian terdiri dari Id, Ego, dan Superego. Id merupakan bagian primitif dari kepribadian Id mengandung insting seksual dan insting agresif. Id membutuhkan stratisfacation dengan segera tanpa memperhatikan realitas yang ada., sehingga oleh Freud disebut prinsip kenikmatan (pleasure principle). Ego menyesuaikan diri dengan realitas. Sedangkan Superego merupakan prinsip moral (morality principle) , yaitu mengontrol perilaku dari segi moral. b) Aliran Behavioristik Behaviorisme adalah sebuah aliran dalam psikologiyang didirikan oleh John B. Watson pada tahun 1913 yang berpendapat bahwa perilaku harus merupakan unsur subjek tunggal psikologi. Behaviorisme merupakan aliran revolisioner, kuat dan berpengaruh, serta memiliki akar sejarah yang cukup dalam. Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme(yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan-laporan subjektif) dan juga psikoanalisis (yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak). c) Aliran Humanistik Abraham Maslow (1908-1970) dapat dipandang sebagai bapak dari psikologi humanistik. Psikologi humanistik mulai di Amerika Serikat pada tahun 1950 dan terus berkembang. Tokoh-tokoh psikologi humanistik memandang behaviorisme mendehumanisasi manusia. Psikologi humanisitk mengarahkan perhatiannya pada humanisasi psikologi yang menekankan keunikan manusia. d) Pendapat Allport Kepribadian manusia menurut Allport adalah organisasi yang dinamis dari sistem psikofisik dalam individu yang turut menentukan cara-caranya yang unik atau khas dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam teori Allport juga memandang bahwa kesehatan psikologis adalah melihat kedepan , tidak melihat kebelakang. Dapat dikatakan bahwa seluruh teori yang dikemukakan oleh Allport ini sangat bertentangan dengan teori-teori yang dikemukakan oleh Freud. e) Pendapat Rogers Memahami dan menjelaskan teori kepribadian sehat menurut Rogers, yang meliputi : • Perkembangan kepribadian/self menurut Rogers, pribadi yang sehat muncul aktualisasi diri seseorang dalam kehidupannya. Pengalaman-pengalaman yang telah memotivasi diri untuk menjadi pribadi yang lebih sehat dari sebelumnya. • Peranan positive regard dalam pembentukan kepribadian individu. Kebutuhan tersebut disebut “need for positive regard”. Kebutuhan tersebut terbagi menjadi dua, yaitu : -conditional positive regard (bersyarat) -unconditional positive regard (tak bersyarat) f) Pendapat Maslow Maslow dalam karya masyhurnya, Motivation and Personality, memaparkan terlebih dahulu sejumlah proposisi yang harus diperhatikan sebelum seseorang menyusun sebuah teori motivasi yang sehat. Maslow pertama-tama menekankan bahwa individu merupakan kesatuan yang terpadu dan terorganisasi. Penyataan ini hampir menjadi aksioma yang diterima oleh semua orang, yang kemudian sering dilupakandan diabaikan, tatkala seseorang melakukan penelitian. g) Pendapat Fromm Teori ericfromm adalah teori yang menggunakan pendekatan sosial psikologis, dimana pemusatan perhatiannya pada penguraian cara-cara dimana struktur dan dinamika-dinamika masyarakat tertentu membentuk para anggotanya sehingga karakter para anggota tersebut sesuai dengan nilai yang ada pada masyarakat. Kebutuhan dasar manusia menurut ericfromm : • Kebutuhan akan keberhubungan kebutuhan ini adalah secara spesifik aktif dan produktif mencintai orang lain. • Kebutuhan akan trandensi mengungguli alam menjadi makhluk yang kreatif. • Kebutuhan akan kemantapan ingin memiliki rasa bersahaja pada dunia dan orang lain supaya dapat berapadtasi didunia. • Kebutuhan akan identitas berusaha untuk memiliki rasa identitas personal dan keunikan guna menciptakan rasa yang terlepas dari dunia. • Kebutuhan akan kerangka orientasi untuk menciptakan rasa yang terlepas dari dunia. Sumber : Basuki Heru A.M (2008).Psikologi Umum. Jakarta: Universitas Gunadarma. Psikologi (2010). Jurnal Online Kajian Psikologi. from http://psikologi.or.id/psikologi-umum-pengantar/aliran-behaviorisme.htm. 12 april 2013 http://www.psychologymania.com/2010/03/gordon-allport-tokoh-psikologi.html

Jumat, 03 Januari 2014

Internet Sebagai Media Komunikasi Interpersonal

Pada kali ini saya akan menjelaskan kajian tentang Internet sebagai Media Komunikasi Interpersonal

Internet

Menurut pakar internet Onno. W. Purbo, "Internet dengan berbagai aplikasinya seperti Web, Volp, E-Mail pada dasarnya merupakan media yang digunakan untuk mengefesiensikan proses komunikasi" (Prihatna, 2005, p7).

Sedangkan menurut tim penelitian dan pengembangan wahana komputer (2005, p4), Internet adalah metode untuk menghubungkan berbagai komputer ke dalam satu jaringan global, melalui protokol yang disebut Transmission Control Protocol / Internet Protocol (TCP/IP).

Berdasarkan kedua pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Internet adalah suatu jaringan komunikasi antara komputer yang besar, yang mencakup seluruh dunia dan berbasis pada sebuah protokol yang disebut TCP/IP (Transmission Control Protocol / Internet Protocol). Selain itu internet dapat disebut sebagai sumber daya informasi yang dapat digunakan oleh seluruh dunia dalam mencari informasi.

Komunikasi

Pengertian komunikasi secara umum (Uchjana,1992:3) dapat dilihat dari dua aspek, yaitu :
    
1.) Pengertian komunikasi secara etimologis    
Komunikasi berasal dari bahasa latin communication, dan bersumber juga dari kata  communis yang artinya sama, dalam arti kata makna. Jadi komunikasi berlangsung apabila antara orang-orang yang terlibat terdapat kesamaan makna mengenai suatu hal yang dikomunikasikan.

2.) Pengertian komunikasi secara terminologis
Komunikasi yang berarti penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain.

Komunikasi menurut beberapa ahli diantaranya adalah menurut Everett Rogers dalam Hafied Cangara (1998:20). Komunikasi didefinisikan sebagai "proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih, dengan maksud untuk merubah tingkah laku mereka". Sedangkan menurut Ami Muhammad (2005:5). komunikasi didefinisikan sebagai "Pertukaran pesan verbal atau non verbal antara si pengirim dengan si penerima pesan untuk mengubah tingkah laku".

Dapat disimpulkan bahwa komunikasi sebagai suatu proses pengiriman dan penyampaian pesan, baik berupa verbal maupun non verbal oleh seseorang kepada orang lain untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik langsung secara lisan, maupun tidak langsung melalui media. Komunikasi yang baik harus disertai dengan adanya jalinan pengertian antara kedua belah pihak (pengiriman dan penerima), sehingga yang dikomunikasikan dapat dimengerti dan dilaksanakan.

Komunikasi Interpersonal 

Secara kontektual, komunikasi interpersonal digambarkan sebagai suatu komunikasi antara dua individu atau sedikit individu, yang mana saling berinteraksi, saling memberikan umpan balik satu sama lain. Namun, memberikan definisi kontekstual saja tidak cukup untuk menggambarkan komunikasi interpersonal, karena setiap interaksi satu individu dengan individu lain berbeda-beda.

Ami Muhammad (2005:159) menyatakan bahwa "komunikasi interpersonal adalah proses pertukaran informasi diantara seseorang dengan paling kurang seorang lainnya atau biasa diantara dua orang yang dapat langsung diketahui balikannya".

Mulyana (2000:73) menyatakan bahwa "komunikasi interpersonal ini adalah komunikasi yang hanya dua orang, seperti suami isteri, dua sejawat, dua sahabat dekat, guru-murid dan sebagainya.

Dapat disimpulkan bahwa komunikasi interpersonal merupakan proses penyampaian informasi, pikiran dan sikap tertentu antara dua orang atau lebih yang terjadi pergantian pesan baik sebagai komunikan maupun komunikator dengan tujuan untuk mencapai saling pengertian, mengenai masalah yang akan dibicarakan yang akhirnya diharapkan terjadi perubahan periaku.

Kesimpulan

Pengguna internet yang saat ini sudah berkembang pesat akibat adanya pengaruh besar terhadap budaya penggunaan internet dikalangan masyarakat. Internet lebih mudah diakses dibandingkan dengan hanya membuka buku dan membaca buku untuk mencari informasi yang lebih detail dan akurat.

Internet juga dapat dijadikan sebagai media bersosialisasi didunia maya, yang tadinya antara satu orang dengan yang lainnya melakukan komunikasi secara langsung, sekarang bisa dilakukan secara tidak langsung melalui webcam, videocall, skype, dll.

Saran

Pergunakanlah Internet sebagai media sosialisasi yang baik antara keluarga, teman-teman kampus, sekolah, main, maupun rekan kerja/bisnis. Jangan disalahgunakan penggunannya, karena dapat berdampak buruk bagi kita.

  
Sumber :

http://thesis.binus.ac.id/Asli/Bab2/2007-2-00411-MNSI_Bab%202.pdf

http://eprints.uny.ac.id/8975/3/bab%202%20-08402244041.pdf